Kisah Setetes Air

 

Aku adalah setetes air yang keluar dari sumber mata air di kaki sebuah gunung. Banyak yang berharap padaku sejak pertama kali aku muncul. aku seakan menjadi primadona yang diagung-agungkan oleh semua orang. Kini aku ikut mengalir dengan sebuah aliran air kecil di dalam hutan. Berkelok melewati batu-batuan sedimen, bersentuhan dengan lumut-lumut hijau, melewati para kepiting dan laba-laba air yang berenang kesana kemari.

Aku merasa begitu jernih dan menikmati aliran kecil yang membawaku pada sebuah perkampungan. Aliran kecil ini berkelok dan mulai memperlihatkan rumah demi rumah. Terlihat banyak anak kecil sedang bermain ditengah aliran dan adapula yang sedang mandi disana. Tak jauh dari sana, beberapa wanita dewasa sedang mencuci pakaiannya diselingi oleh canda dan tawa yang memperlihatkan bahagianya mereka. Kebawah lagi, ada pula para petani yang sedang memandikan kerbau kerbau mereka diiringi senandung indah. Aliran ini terus mengalir dan mulai bercabang. Sebagian menjadi pengairan untuk sawah sawah yang sedang tumbuh. Sebagian lagi terus mengalir ke sungai sungai. Aku tersenyum melihat semuanya senang dan gembira.

Tiba-tiba, aku merasa asing dengan suasana aliran ini. Aliran yang tadinya kecil kini telah menyatu dengan sungai yang cukup besar. Aku mulai memasuki daerah perkotaan. Daerah yang hidupnya penuh dengan teknologi yang serba instan. Tapi mengapa?, Aku mulai terasa keruh. Dulu masih dapat kutemui hewan-hewan air yang begitu riang berenang, namun sekarang aku hanya bertemu dengan lumpur. Bahkan gumpalan-gumpalan plastik yang mengambang terlihat dimana-mana. Apa yang sedang dipikirkan orang-orang kota ini? aku tak mengerti.

Mungkin orang-orang kota berfikir bahwa aku adalah alat. Alat untuk membawa sampah-sampah sisa aktifitas mereka. Menjadi tempat pembuangan yang instan. Segala jenis sampah mereka buang seenaknya padaku. Tak pernahkah mereka berfikir ini akan menyumbat disuatu tempat sana. Bukankah sumbatan itu bisa menjadi sebuah banjir besar? sekarang aku merasa kotor, keruh, bahkan bau. Aku sedih. Sebenarnya aku ingin menangis, tapi apalah dayaku yang hanya setetes air. 

Aku terus bergerak, mengalir, berharap suatu saat menjadi lebih baik. Kini aku sudah lelah. Telah melewati beragam rasa, beragam perilaku, dan bermacam tempat. Aku sangat lelah. Kini aku hanya ingin cepat sampai ke Samudera Keabadian. 

Terimakasih untuk semuanya...


Karya : Dermawan Nugroho


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNTUK KALIAN YANG MUNGKIN MERINDUKAN SOSOK IBU

Aku dan Makna Hidup